Sunday, 6 July 2014

Diam Itu Sulit


Bumi Allah, 8 Ramadhan 1435 H

Aku kembali menyapamu dengan cara yang tak biasanya, lewat baris kata demi kata yang merekam kisah. Karena begitu sulit untukku, membawa hati ini, apalagi kalau masih sendiri. Tulisan ini kupersembahkan Kepada Kamu, duhai Dinda

Belakangan ini, lagi-lagi kamu mendadak menghampiriku. Disaat aku belum siap, belum siap untuk menyambut kehadiranmu. Asal kamu tahu, kehadiranmu ciptakan sejumput bahagia dihatiku, namun pada nyatanya, aku selalu menyembunyikan perasaan itu.

Jangan tanyakan padaku, mengapa. Karena aku sendiri pun tak bisa menjawabnya. Entah apa yang terjadi dengan perasaan ini. Kata orang sih, inilah yang dinamakan dengan kecenderungan terhadap lawan jenis. Tapi itu kata orang, bukan kata hatiku.

Aku bingung, aku sulit menerjemahkan perasaan ini. Aku harus bagaimana?
Lantas aku memilih diam, memilih diam untuk tidak melakukan dialog dengan perasaan ini. Karena diam adalah bahasa lain dari menjaga. Menjaga segala keutuhan perasaan ini, hingga Allah dan malaikatNya lah yang berhak mengungkapkannya di hari Miitsaqan Ghaliiza nanti. Hari dimana aku dan kamu, menyempurnakan separuh agama ini.

Tapi berlaku diam itu, rasa-rasanya sangatlah sulit untukku. Lantas di suatu hari, aku pernah membisikkan namamu “Violet 12 Juni” ke telinga Ibu dan seketika Ibu berkelakar, “Bagus namanya. Kalau kamu suka, kejar dia! Pasti banyak di luar sana yang juga suka sama dia.” Sejak hari itu, aku punya impian untuk membawamu “Violet 12 Juni” ke rumah ini dan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku.


Pria sederhana yang teramat jauh dari sempurna,





Iqbal Sujida Ramadhan

No comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online