Sunday, 28 December 2014

Sekuel Monolog Rasa #3




Bumi Allah, 6 Rabi'ul Awal 1436 H


"Menanti, menunggu, merindu, bahkan mencinta. Sesungguhnya ini termasuk hal-hal yang tak pernah terselesaikan, jika tak ada kepastian."


Bagaimanapun juga perempuan itu butuh suatu kepastian.
Tak bisa kamu gantungkan begitu saja, layaknya mimpi-mimpimu di ketinggian langit.
Kalau toh pun kamu ingin menggantungkannya, mereka butuh pegangan yang kuat.
Bukannya apa-apa, mereka makhluk yang mudah sekali terjatuh, tak bisa kamu permainkan semudah itu, apalagi yang menyangkut perasaannya.


Pernah suatu hari aku bertanya, "mengapa kamu butuh kepastian?"
Lalu kamu pun menjawab, "hanya sekedar untuk membuat perasaanku sedikit nyaman, meskipun bisa saja sewaktu-waktu, kamu pergi meninggalkanku dan tak pernah kembali."


Ternyata dari jawabanmu itu, aku dapat menyimpulkan bahwa rasa khawatirmu jauh lebih besar dari rasa cintamu.
Aaahhhh..... lagi-lagi dominasi perasaanmu begitu kuat. Kamu memang dianugerahi sensor-sensor perasaan yang begitu sensitif.


Untuk sementara waktu, aku hanya ingin berpesan untukmu,
"Jangan kamu kira, ucapanku selama ini hanya berhenti di titik angan-angan saja dan sekedar janji yang tidak bisa ditepati. Karena aku tahu, kamu suka untuk diperjuangkan bukan?"


Dan akan kuberitahukan, bagaimana caranya untuk menjaga perasaanmu tetap nyaman hingga kepastian hari Mitsaqan Ghaliiza itu tiba. Beginilah caranya,


"Belajarlah dengan baik, tentang apa saja terutama ilmu agama. Datanglah ke berbagai majelis ilmu (jika Allah berkehendak mempertemukan kita sekali, dua kali, bahkan lebih disana, tentu akan menyenangkan bukan?). Mendekatlah pada Al-Qur'an, aku sangat berharap di suatu hari nanti kamulah yang mengajarkan kepada mujahid-mujahid kecil kita bagaimana cara membacanya. Karena itulah, kamu digelari madrasah terbaik yang ada di dunia ini.
Tetaplah di tempat itu, berdiri di posisi yang sama, dengan jarak yang sama sebelum hari itu tiba. InsyaAllah, aku akan menjemputmu, tenang saja."



"Bagi mereka yang mengupayakan cinta, setiap musim membagi cindera mata, kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasa hangat juga payung dan layang-layang. Bagi mereka yang mengupayakan cinta ditiap cuaca, cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, hujan menyanyi rezeki, badai mengeratkan peluk dan tiba-tiba, surga mengetuk pintu rumah."
ust. Salim A. Fillah


Mau kan, untuk mengupayakan cinta bersama?





Pria sederhana yang teramat jauh dari sempurna,





Iqbal Sujida Ramadhan

3 comments:

 

blogger templates | Make Money Online