Monday, 6 October 2014

Bagaimana Rasanya Menjadi Tujuan?



Bumi Allah, 11 Dzulhijjah 1435 H

Bagaimana rasanya menjadi tujuan?
Menanti penuh debar, seseorang yang akan menawarkan diri untuk menjadi qawwam duniamu, yang rela mengiringi langkahmu untuk menuai pahala kebaikan.

Bagaimana rasanya menjadi tujuan?
Menunggu dengan taat, seseorang yang akan menjadi imam shalatmu di rumah, yang berani bertanggung jawab membimbingmu menuju Syurga-Nya.

Bagaimana rasanya menjadi tujuan?
Menjadi pusat segala curahan, seseorang yang akan melengkapi tulang rusukmu, yang pertama dan terakhir menyapa disamping tempat tidurmu.

Bagaimana rasanya menjadi tujuan?
Menjadi sandaran keletihan, seseorang yang akan menafkahi keluarga kecilmu, yang tulus membanting tulang dari mentari terbit hingga kembali terbenam.

Bagaimana rasanya menjadi tujuan?
Menjadi bidadari dunia, seseorang yang akan menggandeng tanganmu kemana-mana, yang tak pernah lupa menyelipkan namamu di sela-sela do'a sepanjang malam.

Duhai Dinda, seseorang yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfuz. Tuang rasa ini, sengaja aku ikat abadi, agar kamu dapat merasakan saat-saat aku sedang merindu. Merindu sangat akan tibanya hari Mitsaqan Ghaliiza itu.

Dan seperti yang kita ketahui bersama, "Bila titik penantian ini adalah sebuah ujian, tiada lagi ekspresi rindu selain do'a yang kupanjatkan. Bertukar do'a di sepertiga malam terakhir, selalu terjaga dalam mihrab taat."


Pria sederhana yang teramat jauh dari sempurna,





Iqbal Sujida Ramadhan

Sunday, 6 July 2014

Diam Itu Sulit


Bumi Allah, 8 Ramadhan 1435 H

Aku kembali menyapamu dengan cara yang tak biasanya, lewat baris kata demi kata yang merekam kisah. Karena begitu sulit untukku, membawa hati ini, apalagi kalau masih sendiri. Tulisan ini kupersembahkan Kepada Kamu, duhai Dinda

Belakangan ini, lagi-lagi kamu mendadak menghampiriku. Disaat aku belum siap, belum siap untuk menyambut kehadiranmu. Asal kamu tahu, kehadiranmu ciptakan sejumput bahagia dihatiku, namun pada nyatanya, aku selalu menyembunyikan perasaan itu.

Jangan tanyakan padaku, mengapa. Karena aku sendiri pun tak bisa menjawabnya. Entah apa yang terjadi dengan perasaan ini. Kata orang sih, inilah yang dinamakan dengan kecenderungan terhadap lawan jenis. Tapi itu kata orang, bukan kata hatiku.

Aku bingung, aku sulit menerjemahkan perasaan ini. Aku harus bagaimana?
Lantas aku memilih diam, memilih diam untuk tidak melakukan dialog dengan perasaan ini. Karena diam adalah bahasa lain dari menjaga. Menjaga segala keutuhan perasaan ini, hingga Allah dan malaikatNya lah yang berhak mengungkapkannya di hari Miitsaqan Ghaliiza nanti. Hari dimana aku dan kamu, menyempurnakan separuh agama ini.

Tapi berlaku diam itu, rasa-rasanya sangatlah sulit untukku. Lantas di suatu hari, aku pernah membisikkan namamu “Violet 12 Juni” ke telinga Ibu dan seketika Ibu berkelakar, “Bagus namanya. Kalau kamu suka, kejar dia! Pasti banyak di luar sana yang juga suka sama dia.” Sejak hari itu, aku punya impian untuk membawamu “Violet 12 Juni” ke rumah ini dan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku.


Pria sederhana yang teramat jauh dari sempurna,





Iqbal Sujida Ramadhan

Friday, 4 July 2014

Will You Marry Me (by : Lee Seung Gi)



나랑 결혼해줄래 나랑 평생을 함께 살래
Narang gyeorhonhae jullae narang pyeongsaengeul hamkke sallae
우리 둘이 알콩달콩 서로 사랑하며
Uri duri alkongdalkong seoro saranghamyeo

나 닮은 아이 하나 너 닮은 아이 하나 낳고
Na dalmeun ai hana neo dalmeun ai hana natgo

천년만년 아프지말고 난 살고 싶은데
Cheonnyeon mannyeon apeujimalgo nan salgo sipeunde

솔직히 말해서 내가 널 더 좋아해
Soljikhi malhaeseo naega neol deo joahae
남자와 여자 사이에 그게 좋다고 하던데
Namjawa yeoja saie geuge jodago hadeonde

내가 더 사랑할께 내가 더 아껴줄께
Naega deo saranghalkke naega deo aggyeojulge
눈물이 나고 힘이 들때면 아플때면 함께 아파할께
Nunmuri nago himi deulddaemyeon ipeulddaemyeon hamkke apahalgge

평생을 사랑할께 평생을 지켜줄께
Pyeongsaengeul saranghalkke pyeongsaengeul jikyeojulkke
너만큼 좋은사람 만난걸 감사해 매일 너만 사랑하고 싶어
Neomankeun joheun saram nanmangeol gamsahae maeil neoman saranghago sipeo

나랑 결혼해줄래
Narang gyeorhonhae jullae

Marry me 매일이 행복에 겨워서
Marry me maeiri haengboke gyeowoseo
괜시리 내일이 기대되는 사람
Gwaensiri naeiri gidaedwineun saram
왜이리 왜이리 떨리는걸까
Waeiri waeiri ddeollineun geolgga
보고 또 봐도 내게 제일인 사랑
Bogo ddo bwado naege jeirin sarang
검은머리 파뿌리 될때까지
Geomeun meori pabburi dwoilddaeggaji
우리 둘의 생이 다 끝날때까지
Uri dureui saengi ggeutnalddaeggaji
손에 물은 묻혀도 눈에 눈물 절대 안묻혀
Sone mureun muthyeodo nune nunmul jeoldae anmuthyeo

넌 나의 반쪽 가슴 난 너의 반쪽 가슴되어
Neon naeui banjjok gaseum nan neoeui banjjok gaseumdwieo
숨을 쉬는 그 순간순간 널 사랑해줄께
Sumeul soneun geu sungan sungan neol saranghae julgge

시간이 지나서 주름이 늘어나도
Sigani jinaseo jureumi neureonado
꼭 지금처럼 너와 나 영원히 함께할꺼야
GGok jigeumcheoreom neowa na yeongwonhi hamkke hamkkeya

내가 더 사랑할께 내가 더 아껴줄께
Naega deo saranghalgge naega deo aggyeojulgge
눈물이 나고 힘이 들때면 아플때면 함께 아파할께
Nunmuri nago himi deulddaemyeon apeulddaemyeon hamkke apahalgge

평생을 사랑할께 평생을 지켜줄께
Pyeongsaengeul saranghalkke pyeongsaengeul jikyeojulkke
너만큼 좋은사람 만난걸 감사해 매일 너만 사랑하고 싶어
Neomankeun joheun saram nanmangeol gamsahae maeil neoman saranghago sipeo

너는 마치 어두웠던 내 삶을 밝혀주는 빛
Neoneun machi eoduwotdeon nae salmeun balhyeojuneun bit
보글보글 찌개소리로 반겨주는 집
Bogeulbogeul jjigaesoriro bangyeojuneun jib
매 말랐던 내맘에 내려주는 비
Mae mallatdeon nae mame naeryeojuneun bi
사랑이란 참 의미가 담겨있던 시
Sarangiran cham euimiga damgyeoitdeon si
하늘이 정해 준 운명의 끈
Haneuri jeonghae jun unmyeong eui ggeun
너와 나의 만남은 천생연분
Neowa na eui mannameun cheonsaengyeonbun
이세상을 다준대도 바꿀수 없는 내 삶에 오직 평생 너뿐
Isesangeul dajundaedo baggulsu eobneun nae salme ojik pyeongsaeng neobbun

내가 더 사랑할께 내가 더 아껴줄께
Naega deo saranghalgge naega deo aggyeojulgge
눈물이 나고 힘이 들때면 아플때면 함께 아파할께
Nunmuri nago himi deulddaemyeon apeulddaemyeon hamkke apahalgge

평생을 사랑할께 평생을 지켜줄께
Pyeongsaengeul saranghalkke pyeongsaengeul jikyeojulkke
너만큼 좋은사람 만난걸 감사해 매일 너만 사랑하고 싶어
Neomankeun joheun saram nanmangeol gamsahae maeil neoman saranghago sipeo

Sunday, 29 June 2014

Ramadhan Kariim


Bumi Allah, 1 Ramadhan 1435 H

Alhamdulillah, puji dan syukur kupanjatkan padaMu ya Rabb, akhirnya disampaikan kembali dengan bulan Ramadhan ini.

Segala sesuatunya akan dibuat indah oleh kuasaMu ya Rabb, aku sangat yakin akan hal itu. Begitu pula untuk bulan Ramadhan kali ini, semua akan terasa begitu spesial untukku. Ramadhan kali ini akan menjadi momen yang sangat luar biasa nampaknya, selain menyelesaikan target amalan-amalan yaumi yang telah disusun, nampaknya akan disibukkan juga dengan agenda wajib mahasiswa tingkat akhir, tiada lain tiada bukan adalah Seminar Hasil Penelitian dan Sidang Komprehensif Sarjana.

Subhanallah, kedua agenda itu telah diatur sedemikian rupa oleh kuasaMu ya Rabb, keduanya bertepatan dengan ibadah shaum Ramadhan, berilah Hamba kekuatan untuk menyelesaikan semua ini ya Rabb.

“Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kekuatan, keistiqomahan, kemampuan serta kecukupan dalam ketaatan dan ibadah khususnya pada bulan Ramadhan dan kami berlindung kepada-Mu dari segala musibah dan kepayahan wahai Dzat Yang Maha Pengasih”

Di hari pertama bulan Ramadhan ini, aku ingin berbagi kisah mengenai Keutamaan 10 Hari pertama Bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).”

Sepuluh hari pertama di bulan ramadhan adalah awal yang cukup melelahkan dan tentunya kita berusaha beradaptasi dengan penuh kesabaran untuk melaksanakan shaum dan mengerjakan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah SWT. Para ulama memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai Rahmat, yaitu terbukanya pintu Rahmat Allah SWT, yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang menunaikan shaum.

Dalam khazanah tasawuf Rahmat itu ada dua macam, pertama Rahmah Dzaatiyyah, yaitu Rahmat dan Anugerah yang diberikan Allah SWT kepada semua mahluk-Nya tanpa terkecuali. Kedua Rahmah Khushushiyyah, yaitu Rahmat dan kasih sayang yang Allah SWT hanya diberikan kepada hamba-hamba Pilihan-Nya. Sepuluh hari pertama merupakan keistimewaan karena diturunkannya Rahmat kepada hamba-hamba yang telah ikhlas dan ridha menunaikan shaum ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT.

Salah satu Rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang shaum dengan Iman dan taqwa yaitu disediakan salah satu pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali para ahli shaum.

Dari Sahal bin Sa’ad ra, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di Surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan; masuk dari pintu tersebut ahli shaum di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli shaum, lalu diserukan “Manakah para ahli shaum?’, maka berdirilah para ahli shaum dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli shaum, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu surga tersebut segera tertutup, dan tak ada satupun yang diperbolehkan masuk setelah mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga Bermanfaat !

(Dari berbagai sumber)

Friday, 27 June 2014

Violet di 12 Juni

Bumi Allah, 29 Sya’ban 1435 H

Di hari ini, aku ingin menyapamu dengan cara lain, dengan cara yang tak biasanya, lewat tutur kata demi kata yang merekam jejak. Dan jadikanlah aku sebagai laki-laki yang terakhir, yang terakhir, ia yang terakhir menyapamu dan biarkanlah aku menjadi seorang laki-laki yang paling dikenang untukmu. Hahaha, sudah lupakan-lupakan. Aku tahu kok, perempuan sepertimu tidak akan mungkin terusik hatinya oleh laki-laki sepertiku.

Hei violet, aku dengar hari ini kamu sedang bahagia ya? Ia, bahagia. Karena semua sahabatmu memanjatkan doa-doa kebaikan untukmu. Semua sahabatmu memberikan hadiah terbaik untukmu. Orangtuamu menyiapkan hidangan masakan dengan citra rasa yang tak kalah hebatnya dari para koki yang ada di hotel bintang lima untuk menyambut kehadiranmu di rumah.

Hmmm, wajar saja orang-orang memperlakukanmu sebaik itu. Kamu perempuan yang baik hati sih, sampai-sampai aku hampir terpikat oleh pesonamu. Pesona manismu menjadi energi positif bagiku untuk terus memperbaiki diri. Bener gitu ga yaaa? Enggak lah, niatku untuk berhijrah, InsyaAllah untuk mengejar mahabbahNya, bukan untuk mendapatkan cinta dari para makhluk ciptaanNya. Kamu juga pasti begitu bukan?

Hei, hei, hei, sudah lah, sudaaah... Tak perlu kamu menyinggung tentang pesonaku. Sudah aku tegaskan bukan, hatiku tidak akan mungkin terusik oleh laki-laki sepertimu. Oke, baiklah. Kamu memang perempuan yang cukup keras untuk menanggapi hal ini. Tapi untuk kali ini aku sepakat denganmu, dengan begitu kamu akan lebih terjaga dari hal-hal yang dapat mengotori fitrah hati ini. Syukurlah kamu cepat menyadarinya. Dengan begitu aku semakin yakin, kamu lah laki-laki yang dipilih Allah untuk menjadi Qawwamku.

Ah, masa siiiih?!? Aku tidak pantas untuk menjadi Qawwammu. Hafalan ayat-ayat Qur’anku saja masih sedikit, apalagi kuantitas amalan-amalan yaumiku yang masih sedikit. Aku tegaskan imanku saja masih compang-camping. Hei violet, sudahlah lah sudaaah... Tidak semua perasaan harus dikatakan pada saat ini juga bukan? Simpan saja sampai waktu yang tepat, aku tetap menunggumu kok. Aku tidak akan menghilang darimu, temukan saja aku di langit, di dalam doa-doa panjatmu, di dalam harapanmu. Jemputlah aku di langit, sebab aku tahu, kamu mengenalku bukan karena ada dan rupa. Tapi karena doa kita yang telah bertemu sebelum kasih kita. Doa yang kau panjatkan, ketika Yang Maha Kasih turun disepertiga malam terakhir. Doa yang kau panjatkan, hingga dapat mengguncang ArsyNya.

Aku tahu, bahwa semua ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur tanpa sepengetahuanNya. Tidak ada satu semut hitam di dalam gelap pun yang luput dari penglihatanNya. Di sini, aku hanya ingin memahami apa yang terjadi dengan rasa ini. Apa sebenarnya yang membuat nama kita saling bertaut. Hanya itu.

Terlepas dari itu semua, dalam benak pikirku yang lain, aku meyakini, pendam rasa yang kita simpan adalah bentuk harap yang kini Allah berikan jawabannya. Semoga Allah menyampaikan usia di hari Miitsaqan Ghaliiza nanti.

By the way, Barakallah fii umrik, violet yang tak bisa disebut namanya disini. Maaf, begitu terlambat. Seperti biasa, aku selalu terlambat, terlambat untuk menyatakan rasa ini padamu. Karena aku kurang pandai dalam menerjemahkan rasa ini.


Pria sederhana yang teramat jauh dari sempurna,




Iqbal Sujida Ramadhan

 

blogger templates | Make Money Online