Saturday, 11 September 2010

Music Is Our Life

Pengen ngetop? Sekarang bukan lagi impian katanya, di mana-mana pihak entertainment program lagi jadi pemburu bakat semisal AFI, Indonesian Idol, KDI dan macem-macem lainnya, khususnya buat muda-mudi negeri ini yang lagi haus ketenaran. Ajang menaiki tangga kemasyuran ada di mana-mana, yang makin lama bikin remaja di negeri ini bermimpi habis-habisan. Padahal dibandingin sama lomba tujuh belasan di kampung, kontes ini nggak ada bedanya, sama ramenya, sama cari perhatiannya dan sama nggak beresnya. Cuman mungkin yang beda adalah pihak yang ngasih sponsor dan ngedukung acara, kalo di acara tujuh belasan paling banter adalah pabrik sinom, sablon atau warteg Mak Ijah yang mau nggak mau, harus ngasih duit, soalnya kalo nggak bakal digeruduk orang sekampung. Sedangkan di ajang perburuan bakat yang ngasih support adalah perusahaan-perusahaan besar seperti soft drink, kosmetik remaja dan resto fast food ala barat.
Bila di kampung berita lomba tujuh belasan yang mem-blow up adalah Kartar kampung, sedang di ajang perburuan bakat adalah pihak entertainment dan rumah produksi yang tentunya lebih professional dan tertata, nggak asal nempel pengumuman dan ngasih woro-woro, tapi juga memberi sedikit sentuhan dorongan psikologis buat remaja, antara lain yang nggak ikut acara ini bakal nyesel seumur hidup, jadi idola yang bakal dipuja, jaga gengsi, chance of a life time dan puluhan juta hadiah yang membuat mulut kita membuka terus ngiler (iiih..jijay men!!!).
Mayoritas kontes yang katanya memburu dan mencari bakat terpendam remaja negeri ini nggak ada hubungannya dengan asah otak, kepandaian dan ketrampilan sang generasi muda dalam menghadapi masalah. Nggak kedengaran tuh misalnya yang di pamerin di tivi adalah jago-jago SMU dan Perguruan Tinggi yang ikut kontes jadi ilmuwan atau peneliti muda, tapi yang digadang-gadangin adalah dunia tarik suara alias nyanyi bro... Padahal negeri ini butuh sistem negara yang beres dan orang-orang yang pinter serta ahli di bidangnya, bukannya orang yang cuma pinter goyang dan nyanyi. Krisis dan kemiskinan negeri ini nggak akan selesai kalo kita bisanya cuman nyanyi, minta ditabok apa!! Tapi anehnya pikiran kita yang udah terjerembab masuk ke liang kebodohan, ngerasa kalo itulah yang namanya ketenaran hakiki…Nggak ngefek men!!
Lagi pula nggak cuman sampe disitu, semua peserta ajang pencarian bakat itu udah mabuk dengan impian dari nyanyian yang mereka bawakan. Jadilah mereka budak-budak dunia yang membikin nyanyian sebagai logo sarang pencarian nafkah alias pekerjaan. Konser disana, kontrak disini dan semua aktivitas semu yang nggak perlu pikiran dan kerja keras ekstra. Cukup jaga suara supaya gak serak dan jembret, juga ngerawat tampang supaya penonton yang lihat nggak lari terbirit-birit saat nyanyi kelihatan jerawat yang nongol segede jam dinding. Hanya saja yang kita bakal bahas disini bukannya kontes-kontes itu, soalnya kita semua udah ngerti dan mafhum keharamannya. Nggak usah ditanyakan lagi. Tapi yang kita jadikan perhatian khusus itu adalah soal nyanyian dan efeknya yang boleh dan tidak dalam Islam tentunya, juga soal kenapa sih remaja kita jadi seperti ini.. Sorry ya sobat, ini masalah analisa bro, jadi kamu-kamu yang nggak ingin mikir dikit, ya…minggir aja dulu.
Musik, gimana sih?

They Can Not Destroy Islam

Ada yang bilang hidup tanpa irama adalah sepi (eh, siapa lagi yang bilang begitu?), dan emang faktanya bisa dibilang nggak jauh dari hal ini. Kalo hidup ini nggak punya irama, kita nggak akan bisa nikmati hidup selayaknya seperti manusia, stres dan depresi dimana-mana seperti halnya saat ini, di negeri kita yang lagi jadikan sekulerisme alias misahin agama dari kehidupan menjadi pilihan utama. Memang setiap manusia butuh irama, hiburan dan refreshing dalam hidup, sehingga manusia bisa kembali fresh, semangat dan cerah saat ngadepi sebuah masalah. Bayangin aja kalo di sekitar rumah kita ada tetangga yang sukanya ngomel aja tiap malem, suami pulang malem ngomel, anak dapet nilai jelek ngomel, rebounding rambut nggak beres ngomel, salahnya sendiri kenapa model rambut rebounding milih model Bob Marley, ya…nggak matching toh Jeng!! Hasilnya bisa ditebak! Kita nggak akan tenang dan nggak betah kalo di rumah. Nggak bisa belajar, merenung, sholat jadi nggak khusuk, macem-macem deh…. Toh itu udah jadi sedikit bukti kalo tiap orang butuh hiburan dalam hidup.
Cuman hal ini yang kudu kita garis bawahi fren, hiburan itu bisa segala macem, bisa lagu atau nyanyian, bisa pergi ke daerah yang punya view eksotik dan indah, bisa juga berbincang dengan teman dekat tentang masalah keislaman, tergantung kenyamanan dan tingkat intelektualitas kita. Kadang-kadang ada temen kita yang nganggap kalo ngadakan panggung open air di skul adalah sebuah hiburan atau berdugem bareng konco-konco satu geng waktu malam minggu adalah hiburan. Kalo memang ini yang mereka pahami, berarti tingkat intelektualnya ya..hanya segitu kalo orang jawa bilang sa’juput, meski berada di SMU atau Perguruan Tinggi yang penuh gemerlap bintang (sorry kalo kesindir), kita nggak nuduh kok, cuman memvonis. He..he..
Musik, bisa jadi adalah salah satu yang kita pilih dari berbagai hiburan yang ada. Lagipula, siapa yang nggak suka musik, kalo semua orang di dunia ini ditanya, dijamin nggak akan ada yang nolak, meski pilihan mereka mungkin sedikit berbeda. Nah.. menurut Ibnu Khaldun apa yang disebut nyanyian adalah suara yang berukuran satu nada, setengah nada, seperempat nada dan seterusnya. Ketika diperdengarkan ukuran-ukuran ini berbeda-beda dari kombinasi yang berbeda hingga yang rumit, sehingga mencapai harmoni yang diinginkan. Begitu senandung ini diaplikasikan pada syair, jadilah ia nyanyian. Di era Rasulullah Saw, beliau nggak ngelarang umat Islam untuk bersyair, bahkan beliau mengangkat seorang sahabat Hasan bin Tsabit yang ahli bersyair, sebagai penyemangat ketika jihad dikobarkan. Terus apa ini jadi pedoman kita untuk berdalih kalo nyanyiannya Tata Young dengan syair naughty, itchy, bitchy, boleh-boleh wae…wah tunggu dulu bung!!

Musik, antara hiburan dan peradaban

Dari banyak nash Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw yang pernah kita baca dan kita dengarkan, sebenarnya Rasulullah Saw nggak ngelarang ummatnya untuk sekali-sekali menghibur dirinya. Asalkan jangan jadi pria penghibur..Eiit. Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Aisyah, ketika Aisyah mengantar perempuan ke tempat laki-laki Anshar Rasulullah Saw bertanya, Hai Aisyah! Apakah mereka ini disertai dengan suatu hiburan (lahwan)? Sesungguhnya orang-orang Anshar itu suka terhadap hiburan itu (HR. Bukhari).
Tapi nggak berarti semua hiburan dikasih lampu hijau. Tentunya kita yang udah gede ini kudu ngerti dan bisa mbedakan mana hiburan yang baik dan tidak, dalam Islam tentunya. Islam nggak akan ngasih toleransi buat hiburan yang dicampuradukkan dengan kemaksiatan. Syair-syair yang jorok dan cengeng seperti cinta-cintaan, forum hiburan yang penuh dengan munuman keras, dan campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tentunya Islam nolak secara tegas. Rasulullah Saw bersabda “Sungguh akan ada beberapa orang dari umatku yang minum arak, mereka menamakannya (arak itu) dengan nama lain. Kepala mereka itu biasa dilalaikan dengan bunyi-bunyian dan nyanyian. Maka Allah akan tenggelamkan mereka itu ke dalam bumi dan akan menjadikan mereka kera dan babi.” (HR. ibnu Majah).
Islam ngasih aturan bukan untuk manis-manisan, juga bukan untuk pajangan, apalagi ada yang ngomong aturan itu punya fungsi untuk dilanggar. Islam ngasih aturan ini supaya manusia tetap pada kemanusiaannya dan nggak kejerumus pada derajat yang lebih rendah. Bahkan kalo aturan ini tetep aja dilanggar manusia bakal nyesel berat, nggak tanggung-tanggung. Percaya deh sama kita….
Dari sini kita udah pada mengiyakan kalo namanya nyanyian sebagai hiburan itu boleh-boleh aja alias mubah, tapi inget nyanyian yang baik lho ya. Boleh-boleh aja, asal kita nggak melalaikan tugas yang lebih baik daripada itu. Meskipun lagu yang kita dengerin itu nasyidnya Raihan, Izatul Islam, In-Team atau IMUD Nasyider ciee…, yang namanya mubah ya tetep aja nggak lebih tinggi dari wajib dan sunah. Misal kita sibuk ndengerin musik sampe lupa sholat, atau sibuk nyanyi hingga nggak inget lagi akan dakwah, ini yang jadi masalah buat kita-kita. Kalo kita jelas-jelas lalai dan lupa, nggak ngerti mana yang harus didahulukan bahkan cenderung milih yang mubah daripada yang wajib atau sunah, maka sama aja kayak kita lari-lari pagi lapangan tapi nggak pake baju dan celana, yang mubah didahulukan tapi yang wajib dilupakan, malu bin isin atuh.
Yang nampaknya sekarang bergeser jauh adalah jadinya musik yang asalnya mubah menjadi sebuah komoditi yang wajib dinikmati. Musik juga sekarang menjadi barang bisnis dan lahan uang, lagipula lagu yang laku keras dan jadi obrolan di mana-mana adalah lagu yang sebenarnya nggak pantes untuk diomongin, paling-paling punya kisaran antara cinta, duit dan gaul bebas. Tapi nggak dikit generasi muda yang ngimpi di siang bolong agar bisa jadi penyanyi atau artis sehingga mudah dapat duit, tinggal maju ke panggung, cuap-cuap alias bonbab (bondo abab), jutaan rupiah udah masuk ke saku. Inilah yang seharusnya bikin kita mikir dikit aja, kok bisa musik yang asalnya mubah-mubah aja bisa di jadikan blooming di antara kita kaum muda. Kok bisa sebuah hal yang asalnya mubah jadi sebuah hal yang wajib dinomorsatukan. Kok bisa musik yang asalnya mubah bila syairnya nggak ada unsur aneh-aneh, menjadi sebuah hal yang fardhu buat remaja padahal syair yang ada di dalamnya penuh kemunafikan dan kesyirikan, sampe-sampe sibuk ngurusi daftar AFI, Indonesian Idol dan yang sesaudara dengan itu. Hal itu tadi yang seharusnya ada di benak kita sebagai remaja muslim, kalo ngaku…! Hayoo….
Sobat,musik yang beredar di sebuah negeri nggak akan lepas dari peradaban yang lagi laku di negeri itu. Pas Islam dan umat Islam berkembang menguasai wilayah berbagai bangsa, kehidupan dan peradaban Islam yang mulia tetep aja dipertahankan. Orang-orang Islam nolak tegas dengan semua hal yang berhubungan dengan musik-musik jahiliyah merek Romawi dan Persia, karena di kedua negeri itu, musik dipake untuk bersenang-senang belaka dan hal-hal yang nggak ada manfaatnya, seperti pesta-pesta raja-raja Romawi. Apalagi di dalamnya penuh dengan kemaksiatan yang meluber kemana-mana, dengan Al Qur’an dan Hadits yang tetep kukuh dipegang, tinggal ngomong aja No Way!! Menurut umat Islam saat itu, yang paling menyenangkan adalah ngucapin syair-syair yang mbangkitkan semangat, menyadarkan jiwa dan mengulang bacaan Qur’an dengan indah. Uhh… sejuk bro.
Sedang yang terjadi sekarang sangat bertolak belakang. Musik barat yang penuh kemaksiatan didewakan, bahkan dijadikan ajang nyari uang. Nggak salah tuh. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa profesi menyanyi adalah profesi paling akhir yang dicapai dalam sebuah peradaban. Jadi pas sebuah peradaban mundur, profesi menyanyi justru berkembang pesat. Laris bak kacang rebus. Mengapa Ibnu Khaldun mengatakan hal tersebut, bisa dibilang profesi menyanyi juga merupakan profesi pengangguran, karena menurut beliau profesi ini muncul saat nggak ada tugas lain yang dikerjakan, yang ada hanyalah membuang waktu senggang dan bersenang-senang. Tuh kan… Hal ini klop dengan peradaban dan ideologi kapitalis plus sekuler yang diemban di negeri ini, semua hal bisa diperdagangkan dan jadi komoditi. Suatu hal bisa disebut berharga kalo bisa dinilai dengan uang. Makin gede nilai nominalnya, makin gede nilai barang, itu dalam pandangan orang kapitalis.
Islam nggak ngutamakan nilai nominal suatu hal supaya bisa dibilang berharga. Why? Karena nilai nominal sesuatu mudah berubah, nggak pasti dan sementara, apalagi yang menilai adalah manusia yang serba lemah dan nggak punya daya. Dalam Islam yang paling utama adalah ridho Allah Swt, karena hal inilah yang disebut dengan nilai sejati. Barang mudah musnah, cinta manusia akan luntur oleh usia, tapi ridho Illahi nggak akan bisa terganti oleh apapun.

Dakwah is our life!! Yes !!

Meski kita masih muda, nggak berarti kita kudu gunakan aji mumpung, mumpung masih muda terus seneng-seneng seenaknya. Kita seharusnya ngerti, kalo yang namanya masa muda itu cuman sekali, nggak mungkin saat kita tua terus tiba-tiba jadi muda lagi, ya nggak lucu fren! Masa muda yang kita nikmati justru menjadi penentu akan masa depan kita. Kalo masa muda kita udah diguyur kemaksiatan dimana-mana tentunya akan susah untuk kita buat kembali pada Al Qur’an dan Al Hadits. Tapi bila pas muda kita gunakan untuk berjuang di jalan Allah seperti halnya para sahabat yang berjuang bersama Rasulullah, tentunya kita nggak akan nyesel pas tua besok. Itupun kalo maut nggak nyenggol kita waktu muda.

Nah saatnya kita sadar, dan kembali untuk mengkaji Islam secara menyeluruh. Nggak usah ditunda, kita masih muda, masih kuat jalan nggak perlu dipapah, jadikan hidup kita penuh makna. Ayo sobat bangkit dan bawa panji Islam di pundak kita. Dakwah is our life!!

Semoga Bermanfaat !

(Dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online